Khamis, 11 Mei 2017

Antologi Bulan Muda di Puncak Siguntang: Antologi Pilihan Puisi Baru Melayu

Buku antologi sajak berjudul Bulan Muda di Puncak Siguntang: Antologi Pilihan Puisi Baru Melayu ini diterbitkan oleh Dream Eater Publishing tahun 2016. 

Antologi setebal 332 ini memuatkan sajak-sajak dalam dwibahasa, iaitu bahasa Cina dan bahasa Melayu, telah diselenggarakan oleh Chong Fah Hing. 

Tiga buah sajak Nassury Ibrahim yang dimuatkan dalam antologi ini ialah Keris atau Seorang Raja Purba (ms 229 - 230), Kata di Tanganmu (ms 231 - 232) dan Wanita Sejarah (ms 233 - 234).


KERIS ATAU SEORANG RAJA PURBA

Di bilik kaca
            sebuah rumah
akhirnya
            kutemui kau
            diam
tanpa istana tercinta
tanpa rakyat jelata
            akhirnya
 dalam bilik kaca
seorang raja purba
            sepi dan terasing.

KATA DI TANGANMU

Aku tahu kata di tanganmu
bukan kata di tanganku

kalau pisau katamu maka kataku tajamnya bukan senjata
kalau suara katamu maka kataku kiasnya bukan makna
kalau senyum katamu maka kataku mesranya bukan manis
kalau angin katamu maka kataku damainya bukan khabar
kalau api katamu maka kataku rasanya bukan panas
kalau isi katamu maka kataku zatnya bukan kenyang
kalau buku katamu maka kataku ilmunya bukan karya
kalau kepala katamu maka kataku mulianya bukan atas
kalau rasa katamu maka kataku benarnya bukan kata
kalau kata katamu maka kataku nilainya bukan sampai

kata adalah madu rahsia piala kehidupan di hayat usia
kata adalah pulau bahagia kekasih pelayaran di laut lelah
kata adalah merpati rasa rumah keakumuan di taman mesra

dia jambatan minda di laut kalbu tidak beriak
dia mata kuasa di lidah ilmu tidak berpijak
dia telinga rasa di medan makna tidak berkocak
di mana-mana di mana-mana
dia kata makhluk yang Satu

aku mahu kata di tanganku
adalah kata di tanganmu.


WANITA SEJARAH
(Mengenang Shamsiah Fakeh)

Hampir tenggelam dia menjadi fosil purba
sesekali diangkat Ogos jadi nasionalis bangsa

hampir sirna dia dalam debu masa
sesekali disapu media menghiasi nostalgia

hampir terputus dia daripada minda tinta
sesekali mengalir di kerongkong pensyarah

hampir berkarat dia di pulau fitnah penjajah
sesekali digilap Fatini dengan kiwi bangsa

hampir tenggelam dia wanita sejarah
tenggelam dalam antagonis wira merdeka.

Tiada ulasan:

Catat Komen